Sabtu, 20 Agustus 2011

Batangtoru (sekarang) Layaknya Cerita Gombloh di Berita Cuaca

Lestari alamku, lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku, suburlah bumiku
Kuingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya nusantara lama
Tentram kartaraharja di sana

Mengapa tanahku rawan kini
Bukit bukit telanjang berdiri
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi

Kuingin bukitku hijau kembali
Semenung pun tak sabar menanti
Doa kan kuucapkan hari demi hari
Kapankah hati ini kapan lagi

Song : Gombloh
"Berita Cuaca"

Sabtu, 11 Desember 2010

Ladang Emas Itu Bernama Batangtoru = Khayalan

   Foto lukisan karya Hermann von Rosenberg ini menggambarkan alam Batangtoru dengan latar Gunung Lubuk Raya yang gagah menjaga kesejukan alam di masa itu. Tahun 1878 lukisan milik seorang naturalis asal Jerman ini  dibuat. Sungguh alami, rimbun pepohonan mampu mematikan panas bumi yang menyekat para pemancing ikan yang mencoba mengadu peruntungannya di tepi Aek Godang (sebutan Sungai Batangtoru oleh pribumi), masyarakat yang diyakini hidup tak bermanja-manja, sebab di kala fajar menyingsing mereka sudah berangkat untuk mencari sesuatu buat bekal perut mereka dan keluarga mereka. Tentram terlihat, alami terasa. Indah Batangtoruku di masa dulu.

    Batangtoru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Di Sumatera Utara, Batangtoru dikenal karena disana terdapat perkebunan karet milik negara yang lazim kita sebut dengan PN3. Selain itu Batangtoru dikenal karena memiliki sungai yang sangat berpengaruh bagi ekosistem di daerah Tapanuli Utara, sebahagian Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan yaitu Sungai Batangtoru. Bukan hanya itu, Batangtoru juga memiliki hutan yang konon disebut sebagai harta karun Tapanuli. Julukan harta karun Tapanuli bukan diberikan begitu saja. Ini dibuktikan dengan eksistensi ribuan jenis flora dan fauna yang masih belum terusik oleh tangan manusia. Bahkan untuk populasi Orang Utan Sumatera, Hutan Batangtoru adalah rumah bagi 15% dari jumlah Orang Utan Sumatera di dunia. Belum lagi hal-hal yang lain, yang mungkin tak akan selesai jika kita coba bahas tentang itu semua.

Hutan Batangtoru (baru-baru ini dijadikan hutan lindung). too late, Mr..!!
   Dipertengahan tahun 1990-an, terciumlah oleh orang asing bahwa sebenarnya daerah Batangtoru itu adalah ladang emas. Bagaimana tidak, setelah dilakukan penelitian, dan jika di daerah tersebut dijadikan daerah pertambangan maka daerah itu bisa sejajar dengan ladang emas tersubur di dunia, yakni Papua. Perlahan tapi pasti, orang asing tersebut berhasil mencuri hati para pemimpin yang ketika itu memimpin negeri ini. Dengan seketika berdirilah pertambangan skala kecil di daerah ini.
Dan mereka pun berpaling hati
ribuan fauna mengungsi bahkan ada yg tertembak mati
salah satu alat perusak lingkungan dan ekosistem makhluk hidup

   Sekarang tambang itu sudah mulai dewasa, tapi belum mampu mendewasakan diri terhadap masyarakat dan lingkungan disana. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali pertambangan itu dipegang oleh beberapa perusahaan. Silih berganti pemengang saham juga tak berimbas kepada kemakmuran pribumi Batangtoru. Potensi emas yang berlimpah disamarkan oleh perusahaan. Tiap tahun berlagak rugi. Bayangkan, dalam 10 tahun dari tanah leluhur kami itu mampu dikeruk sekitar 6,3 ton emas. Jika diuangkan, maka kata yang tepat menggambarkannya adalah fantastis. Tapi sayang, rakyat masih begitu-begitu saja hidupnya. Saya rasa tak ada manfaatnya buat pribumi disitu. Mungkin malang yang selama ini di dapat. Bahkan sejak beroperasinya tambang tersebut sedikit mengubah psikologis manusia Batangtoru. Di masaku kecil dulu disana, tak satupun orang pribumi berwajahkan tinggi, semua menunduk, menyopankan diri. Hampir tak terlihat lagi ini di masa sekarang. Boleh dibuktikan. Silahkan kesana...
Kondisi pasar Batangtoru (sebuah daerah pertambangan emas). Pantaskah..??

Kasihan. 
Itu kata-kata yang kuanggap tepat buat kondisi sekarang.
Mudah-mudahan coretan tak seberapa ini mampu mengetuk hati para kawan-kawan di daerah itu,
Saya juga berasal dari sana
Jangan diam saja, saudaraku!!
Atau diam sama dengan MATI..!!

Kamis, 09 Desember 2010

Aku, Kemaren, dan Hari Ini

    Minggu, 22 April 1990. Sekitar pukul 11.45 tepat teriknya matahari diatas kepala, menyengat setiap ubun-ubun di kepala orang-orang di desa itu. Ya...Batangtoru adalah nama desa itu. Desa yang sekarang sudah bisa dibilang kota kecil. Terdengar tangisan pertama cucu Adam karena menangis sedih berpisah dengan penciptanya. Sibayi belum paham situasi pada saat itu. Ia tak mau tahu arti senyum bahagia dari orang-orang di sekelilingnya. Keadaanlah yang memaksa ia bersikap sedikit arogan alias tak peduli, orang yang mengelilinginya sangat jelas terlihat bahagia dan ia balas dengan tangisan. Mungkin ia belum paham apa itu ritual kelahiran seorang bayi, ritual kelahiran dirinya. Dan itu semua berlalu. Tepat tiga hari setelah tanggal 22 April 1990, kata "ucok" untuk panggilan terhadap dirinya tidak berlaku lagi. Sebab dia sudah memiliki nama. Sibayi sekarang bernama Surya Ananda Guccie.


    "Uya". Begitu ia dipanggil. Latar belakang orangtua yang berasal dari daerah "darek" begitu orang Batangtoru mengatakannya (darek=Minang) menjadikan si Uya ini bisa dan lancar berbahasa Minang. Ia bangga bisa menguasai banyak bahasa di masa kecilnya. Selain bahasa Minang, dia sudah paham sekali akan bahasa Batak. Itulah satu yang bisa dibanggakan dari dirinya pada masa itu, karena sebelumnya ia telah manguasai bahasa negeri ini. Masa kecil dihabisakan bersama keluarga, bersama sahabat-sahabat terbaik (Arul, Nanda, Akbar, Chandra, dll), lingkungan yang sangat membuat selalu rindu akan masa-masa disana. Pendidikan dasar di SD 1 Batangtoru mampu ia selesaikan dengan berbagai prestasi. Cukup 6 tahun ia menyelesaikan dasar pendidikannya di SD tersebut.


    Seketika tamat SD, ia langsung diungsikan ke Padang oleh orangtuanya. Lebih tepatnya ke PMT. Prof.Dr. HAMKA yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman tapi hampir menyentuh Kota Padang dan paling tepatnya di perbatasan kedua wilayah tersebut. Tangis, tawa, marah, sabar, telah ia lalui di Ma'had itu. Agama ia dalami di tempat itu. Mungkin bagi beliau, tempat itu sangat berarti bagi hidupnya. Tempat para calon leader belajar agama islam. Sayang, akhir-akhir ini Ma'had tersebut sedikit didera masalah. Kabar burungnya, hanya sedikit Pesantren tersebut bisa menamatkan santri-santrinya karena memang jumlah santri-santrinya menurun sangan drastis dan makin sedikit. Ganjil tiga tahun ia selesaikan di Ma'had itu. Sesal dihati mungkin ia rasakan karena dia tidak mampu menamatkan 6 tahun disana. Sesal ia menyesal...


   SMA Negeri 2 Padang Sidimpuan. Ia kembali bagai pecundang ke kampungnya lalu bersekolah di SMA itu. Hanya 2 tahun disana. Kelas tiga ia pindah ke SMA Negeri 1 Batangtoru. Lebih dekat dengan orangtuanya. Dan dia tidak mampu meceritakannya kenapa ia bisa pindah-pindah sekolah begitu. Mungkin baginya ini adalah masalah suram bagi hidupnya, hidupnya dalam mengecap pendidikan. Banyak peristiwa-peristiwa berharga ia lalui di SMA-nya yang kedua ini. Bukan tanpa alasan. Ia dan konco-konconya masa kecil dulu bersua kembali. Kebandelan-kebandelan mereka bersatu kembali. Kompak, itulah mereka. Tak terasa si Uya ini, sudah corat-coret baju putih abu-abunya alias dia sudah lulus SMA.


    Medan...!! tempat itulah yang menjadi target dia berikutnya. Tak lulus kuliah di Universitas negeri membuatnya terpaksa kuliah disalah satu universitas swasta di kota itu. UISU tepatnya. Tidak kelar satu tahun. Ia ikut-ikutan lagi tes masuk perguruan tinggi negeri. Berkat doanya di setiap shalat yang dia lakukan, Ia berhasil lulus di salah satu universitas negeri di Pulau Sumatera. Di ujung Pulau Sumatera lebih tepatnya. Universitas Syiah Kuala di Kota Banda Aceh. Kampus merah sebutan untuk fakultas hukum di Unsyiah ini adalah menjadi almamaternya. Bangga betul dia. Hingar betul dia. Bahagia betul dia. Dia, SURYA ANANDA GUCCIE...

Minggu, 05 Desember 2010

Arti Kesetiaan Yang Sebenarnya

    Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
    Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!
    Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
    Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
    Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
    Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
    Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.
   Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
 “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.
 “Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
 ”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya
    Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
    Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
    Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis
 ” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”. 


 copaz dari hamba Allah..
:)