Kamis, 09 Desember 2010

Aku, Kemaren, dan Hari Ini

    Minggu, 22 April 1990. Sekitar pukul 11.45 tepat teriknya matahari diatas kepala, menyengat setiap ubun-ubun di kepala orang-orang di desa itu. Ya...Batangtoru adalah nama desa itu. Desa yang sekarang sudah bisa dibilang kota kecil. Terdengar tangisan pertama cucu Adam karena menangis sedih berpisah dengan penciptanya. Sibayi belum paham situasi pada saat itu. Ia tak mau tahu arti senyum bahagia dari orang-orang di sekelilingnya. Keadaanlah yang memaksa ia bersikap sedikit arogan alias tak peduli, orang yang mengelilinginya sangat jelas terlihat bahagia dan ia balas dengan tangisan. Mungkin ia belum paham apa itu ritual kelahiran seorang bayi, ritual kelahiran dirinya. Dan itu semua berlalu. Tepat tiga hari setelah tanggal 22 April 1990, kata "ucok" untuk panggilan terhadap dirinya tidak berlaku lagi. Sebab dia sudah memiliki nama. Sibayi sekarang bernama Surya Ananda Guccie.


    "Uya". Begitu ia dipanggil. Latar belakang orangtua yang berasal dari daerah "darek" begitu orang Batangtoru mengatakannya (darek=Minang) menjadikan si Uya ini bisa dan lancar berbahasa Minang. Ia bangga bisa menguasai banyak bahasa di masa kecilnya. Selain bahasa Minang, dia sudah paham sekali akan bahasa Batak. Itulah satu yang bisa dibanggakan dari dirinya pada masa itu, karena sebelumnya ia telah manguasai bahasa negeri ini. Masa kecil dihabisakan bersama keluarga, bersama sahabat-sahabat terbaik (Arul, Nanda, Akbar, Chandra, dll), lingkungan yang sangat membuat selalu rindu akan masa-masa disana. Pendidikan dasar di SD 1 Batangtoru mampu ia selesaikan dengan berbagai prestasi. Cukup 6 tahun ia menyelesaikan dasar pendidikannya di SD tersebut.


    Seketika tamat SD, ia langsung diungsikan ke Padang oleh orangtuanya. Lebih tepatnya ke PMT. Prof.Dr. HAMKA yang terletak di Kabupaten Padang Pariaman tapi hampir menyentuh Kota Padang dan paling tepatnya di perbatasan kedua wilayah tersebut. Tangis, tawa, marah, sabar, telah ia lalui di Ma'had itu. Agama ia dalami di tempat itu. Mungkin bagi beliau, tempat itu sangat berarti bagi hidupnya. Tempat para calon leader belajar agama islam. Sayang, akhir-akhir ini Ma'had tersebut sedikit didera masalah. Kabar burungnya, hanya sedikit Pesantren tersebut bisa menamatkan santri-santrinya karena memang jumlah santri-santrinya menurun sangan drastis dan makin sedikit. Ganjil tiga tahun ia selesaikan di Ma'had itu. Sesal dihati mungkin ia rasakan karena dia tidak mampu menamatkan 6 tahun disana. Sesal ia menyesal...


   SMA Negeri 2 Padang Sidimpuan. Ia kembali bagai pecundang ke kampungnya lalu bersekolah di SMA itu. Hanya 2 tahun disana. Kelas tiga ia pindah ke SMA Negeri 1 Batangtoru. Lebih dekat dengan orangtuanya. Dan dia tidak mampu meceritakannya kenapa ia bisa pindah-pindah sekolah begitu. Mungkin baginya ini adalah masalah suram bagi hidupnya, hidupnya dalam mengecap pendidikan. Banyak peristiwa-peristiwa berharga ia lalui di SMA-nya yang kedua ini. Bukan tanpa alasan. Ia dan konco-konconya masa kecil dulu bersua kembali. Kebandelan-kebandelan mereka bersatu kembali. Kompak, itulah mereka. Tak terasa si Uya ini, sudah corat-coret baju putih abu-abunya alias dia sudah lulus SMA.


    Medan...!! tempat itulah yang menjadi target dia berikutnya. Tak lulus kuliah di Universitas negeri membuatnya terpaksa kuliah disalah satu universitas swasta di kota itu. UISU tepatnya. Tidak kelar satu tahun. Ia ikut-ikutan lagi tes masuk perguruan tinggi negeri. Berkat doanya di setiap shalat yang dia lakukan, Ia berhasil lulus di salah satu universitas negeri di Pulau Sumatera. Di ujung Pulau Sumatera lebih tepatnya. Universitas Syiah Kuala di Kota Banda Aceh. Kampus merah sebutan untuk fakultas hukum di Unsyiah ini adalah menjadi almamaternya. Bangga betul dia. Hingar betul dia. Bahagia betul dia. Dia, SURYA ANANDA GUCCIE...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar