Foto lukisan karya Hermann von Rosenberg ini menggambarkan alam Batangtoru dengan latar Gunung Lubuk Raya yang gagah menjaga kesejukan alam di masa itu. Tahun 1878 lukisan milik seorang naturalis asal Jerman ini dibuat. Sungguh alami, rimbun pepohonan mampu mematikan panas bumi yang menyekat para pemancing ikan yang mencoba mengadu peruntungannya di tepi Aek Godang (sebutan Sungai Batangtoru oleh pribumi), masyarakat yang diyakini hidup tak bermanja-manja, sebab di kala fajar menyingsing mereka sudah berangkat untuk mencari sesuatu buat bekal perut mereka dan keluarga mereka. Tentram terlihat, alami terasa. Indah Batangtoruku di masa dulu. Batangtoru adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Di Sumatera Utara, Batangtoru dikenal karena disana terdapat perkebunan karet milik negara yang lazim kita sebut dengan PN3. Selain itu Batangtoru dikenal karena memiliki sungai yang sangat berpengaruh bagi ekosistem di daerah Tapanuli Utara, sebahagian Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan yaitu Sungai Batangtoru. Bukan hanya itu, Batangtoru juga memiliki hutan yang konon disebut sebagai harta karun Tapanuli. Julukan harta karun Tapanuli bukan diberikan begitu saja. Ini dibuktikan dengan eksistensi ribuan jenis flora dan fauna yang masih belum terusik oleh tangan manusia. Bahkan untuk populasi Orang Utan Sumatera, Hutan Batangtoru adalah rumah bagi 15% dari jumlah Orang Utan Sumatera di dunia. Belum lagi hal-hal yang lain, yang mungkin tak akan selesai jika kita coba bahas tentang itu semua.
| Hutan Batangtoru (baru-baru ini dijadikan hutan lindung). too late, Mr..!! |
Dipertengahan tahun 1990-an, terciumlah oleh orang asing bahwa sebenarnya daerah Batangtoru itu adalah ladang emas. Bagaimana tidak, setelah dilakukan penelitian, dan jika di daerah tersebut dijadikan daerah pertambangan maka daerah itu bisa sejajar dengan ladang emas tersubur di dunia, yakni Papua. Perlahan tapi pasti, orang asing tersebut berhasil mencuri hati para pemimpin yang ketika itu memimpin negeri ini. Dengan seketika berdirilah pertambangan skala kecil di daerah ini.
![]() |
| Dan mereka pun berpaling hati |
![]() |
| ribuan fauna mengungsi bahkan ada yg tertembak mati |
![]() |
| salah satu alat perusak lingkungan dan ekosistem makhluk hidup |
Sekarang tambang itu sudah mulai dewasa, tapi belum mampu mendewasakan diri terhadap masyarakat dan lingkungan disana. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali pertambangan itu dipegang oleh beberapa perusahaan. Silih berganti pemengang saham juga tak berimbas kepada kemakmuran pribumi Batangtoru. Potensi emas yang berlimpah disamarkan oleh perusahaan. Tiap tahun berlagak rugi. Bayangkan, dalam 10 tahun dari tanah leluhur kami itu mampu dikeruk sekitar 6,3 ton emas. Jika diuangkan, maka kata yang tepat menggambarkannya adalah fantastis. Tapi sayang, rakyat masih begitu-begitu saja hidupnya. Saya rasa tak ada manfaatnya buat pribumi disitu. Mungkin malang yang selama ini di dapat. Bahkan sejak beroperasinya tambang tersebut sedikit mengubah psikologis manusia Batangtoru. Di masaku kecil dulu disana, tak satupun orang pribumi berwajahkan tinggi, semua menunduk, menyopankan diri. Hampir tak terlihat lagi ini di masa sekarang. Boleh dibuktikan. Silahkan kesana...
| Kondisi pasar Batangtoru (sebuah daerah pertambangan emas). Pantaskah..?? |
Kasihan.
Itu kata-kata yang kuanggap tepat buat kondisi sekarang.
Mudah-mudahan coretan tak seberapa ini mampu mengetuk hati para kawan-kawan di daerah itu,
Saya juga berasal dari sana
Jangan diam saja, saudaraku!!
Atau diam sama dengan MATI..!!




